Catatan Grafting Anggur "On Cutting", Bagian III: Alat dan Piranti
![]() |
| Alat grafting Foto: Bayu G Murti | 1441 |
Sebelum masuk pada cara grafting, saya ingin bercerita sedikit tentang alat dan properti yang saya pakai. Pisau, grafting tool, gunting potong/pruning, properti untuk membungkus entress dan mengikat sambungan, dan beberapa piranti lain.
Sekedar mengingatkan, bahwa alat potong kita harus senantiasa tajam dan bersih. Alat yang tajam, tidak meninggalkan luka yang menyakitkan. Luka tanaman harus semulus mungkin, tanpa koyak dan memar. Sebisa mungkin meminimalisir kerusakan jaringan.
Dan kebersihan, tepatnya sterilisasi, harus dijaga agar faktor eksternal seperti kebusukan akibat infeksi pada luka, bisa ditekan. Saya menggunakan alkohol untuk sterilisasi alat, disapukan dengan tissue atau disemprot, setiap durasi tertentu.
Sebelum disimpan, setelah selesai digunakan, alat potong juga sebaiknya dibersihkan dari noda, sisa getah dan kotoran lainnya. Untuk menjaga tidak berkarat, bisa memakai wax khusus logam.
Gunting Pruning/Potong

Gunting saya pakai yang murahan. Dan sungguh merepotkan, karena harus diasah bolak balik. Ketajamannya jauh berkurang setelah digunakan memotong beberapa puluh kali. Ketika gunting tak lagi tajam, dia meninggalkan luka memar.Bahan juga ternyata ada yang berjejak kehitaman terkena getah, ada yang tidak. Ini saya ketahui selang kemudian setelah saya beli gunting berbahan SK-5 Japan Steel.
Itungannya masih murahan juga. Namun lumayan tajam, dan getah tanaman tidak berbekas kehitaman.
Harga emang nggak bohong. Gunting nggak bikin tangan cepet pegel. Ringan namun kuat. Dipegang nggak licin kena keringat. Hemat tenaga. Tinggal liat nanti berapa tangguh ketajamannya bisa bertahan.
Desain pengunci kerapatan mata juga termasuk poin yang mempengaruhi kinerja gunting. Gunting jelek, kerapatanya gampang berubah. Punya saya yang lama, sering mengencang sendiri.
Pruning shear, bagi peng"anggur"an, bagi tukang taneman, bagi saya pribadi khususnya, seperti kepanjangan tangan sendiri. Digunakan hampir sepanjang waktu, tidak hanya saat grafting. Memakai pilihan terbaik, sepertinya hukumnya wajib, bila mampu.
So..., musti nabung, cari gunting lagi.
Pisau
![]() |
| Pisau Grafting Foto: Bayu G Murti | 1441 |
Dan memang tajam. Bahannya bagus, Carbon Steel. Tajamnya awet. Jika diasah dengan benar, dia bisa setajam silet. Dan saya sudah tidak pernah mamaki silet lagi, walaupun untuk mengiris entress muda, pun pucuk. Pisau silet, buat saya megangnya susah. Kadang-kadang bahaya juga, rawan mengiris jari sendiri. Dan silet itu terlalu lemas, jadi susah bikin irisan lurus.
Pisau ini handlingnya enak. Nyaman digenggam dan dioperasikan. Namun, dia harus terjaga kebersihannya, karena jenis baja ini gempang karatan. Sebagai perbandingan, saya pernah memakai grafting knife merk Wipro. Bahan stainless steel. Nggak karatan memang, tapi soal ketajaman maksimal dan keawetan ketajamannya, jelas kalah dengan Carbon Steel.
Pisau bikinan Mas Arman Arif ini tajam di dua sisi. Bentuk cukup langsam, jadi enak juga untuk menyayat batang muda. Hanya satu hal yang bikin kagok, adalah garis mata tajamnya yang melengkung. Ini membuat agak susah bikin sayatan lurus dan seimbang di tiap sisi, pada batang besar, apalagi yang berkayu. Model V atau sayat miring untuk sambungan whipped & tongue. Jadi saat menyayat, sebisa mungkin menjaga posisi mata tidak bergeser. Padahal, sayatan model ini lebih mudah ketika mata pisau digunakan dari mulai pangkal mata, menuju ke ujung, seiring tangan kita bergerak dan menekan membuat sayatan.
Dan ketika menyambung model T Bud, saya baru menyadari kenapa pisau grafting didesain menyembul pada punggug mata pisau. Ternyata salah satu fungsinya untuk mempermudah mengupas kulit, tanpa menggores pokok kayu.
Beberapa dari Anda mungkin akan berkomentar, pakai pisau apapun kan bisa asal tajam.
Benar, nggak ada salahnya.
Namun, buat saya pribadi, dedicated tool, yang memang didesain untuk tujuan grafting, akan lebih mudah digunakan. Baik bentuk, ukuran, tingkat ketajaman, ketahanan ketajaman dan durabilitasnya.
So..., musti nabung lagi, cari pisau lagi...
Sekedar tambahan, saya cantumkan link youtube referensi yang saya pakai tentang teknik memegang pisau saat grafting dan cara mengasah pisau.
Parafilm, Grafting Tape, Plastic Wrap
Grafting kemaren, memang cari segala yang murah. Asal bisa dimanfaatkan aja. Pengikat juga hanya memakai plastik wrap. Plastik gulungan yang biasa dipakai untuk menutup makanan. Dia tipis, lentur, dan agak rekat.
Kelemahan barang ini, setelah melihat hasil grafting yang tumbuh, menurut saya adalah plastik wrap tidak memiliki cukup pori-pori. Beberapa entress yang tumbuh, menunjukkan masalah pembusukan. Ini sepertinya terjadi karena air yang terjebak di dalam plastik. Dia juga tidak merekat dan menempel sempurna, jadi masih meninggalkan rongga.
Pilihan yang lebih bagus untuk membungkus entress dan sambungan adalah Parafilm Laboratory Tape dan Grafting Tape. Yang pertama, menurut saya lebih bagus. Dia berbahan lentur dan elastis. Bahannya menempel lebih rapat dan saling merekat, jadi nggak perlu mengikat bebadan agar tidak lepas. Namun perlu perasaan saat menariknya, agak gampang putus. Kelemahannya, bahannya terlalu degradable, gampang hancur. Antisipasi parafilm hancur atau pecah sebelum sambungan menyambung sempurna, bisa diberi ikatan tambahan menggunakan plastik PE. Bisa pula menggunakan lakban kertas, sekaligus untuk tagging.
Grafting Tape, dari namanya saja memang sudah dedicated untuk keperluan sambung menyambung tanaman. Dia lentur, sekaligus liat, jadi nggak khawatir putus jika membuat bebadan/ikatan erat pada sambungan. Plastiknya saling merekat. Dia diklaim memiliki pori-pori yang bagus dan berbahan degradable, artinya bisa hancur dengan sendirinya. Namun, dari pengalaman, plastik ini lama terurai/hancur, jadi harus dibuka manual saat sambungan sudah menempel sempurna. Jika dibiarkan, batang tercekik dan terjadi pembengkakan di sekitar ikatan.
Grafting Tool
Alat portable ini lumayan bekerja dengan baik. Tapi namanya barang murah, segalanya serba terbatas. Banyak kelamahannya, namun bisa diatasi.
Pertama, mata pisau bahannya jelek. Dari baru sudah kurang tajam. Harus diasah sendiri sampai tajam dan luka pangkasan rapih, tidak mengoyak.
Kedua, ayunan mata pisau sering tidak stabil, jadi harus dipastikan irisan bagus dan merata, terutama untuk cutting dan scion dengan diameter besar.
Lebih lanjut saya bahas di video ini: Grafting Tool Review
Tagging
![]() |
| Tagging varian Oscar Foto: Bayu G Murti | 1441 |
Saya memegang prinsip, adalah penghianatan besar dan tak termaafkan jika kita sampai kehilangan kejelasan nama varian dari salah satu tanaman anggur saya. Nama ilang? Ya sudah buang saja. Buat apa pelihara No Name (istilah untuk tanaman anggur yang kehilangan tag name, biasanya akibat keteledoran), apalagi sampai disebar-sebar.
Pada tahap ini, saya menggunakan lakban kertas yang direkatkan pada daerah sambungan. Ini sekaligus untuk menguatkan lilitan sambungan. Tagging menggunakan kode atau singkatan nama varian, 1-3 huruf. Nama varian entress dan RS ditulis semua. Menggunakan spidol marker yang permanen.
Tangging dengan lakban kertas hanya sementara. Setelah bibit dipastikan tumbuh, tangging ditulis di polybag, atau menggunakan tag terpisah.
Bayu G Murti
Banjarnegara, Syawal 1441



Om saya mau cari pisau victorinox seri felco 3.90.50. belinya dmn ya?
BalasHapusagak susah nyari di sini
Hapussaya dapet dari Ady Flores https://web.facebook.com/adi.irawanrusdi